Berdirinya CSV tidak terpisahkan dengan
peranan Ir. C.L Van Doorn, seorang ahli kehutanan yang mempelajari
aspek sosial dan ekonomi khususnya ilmu pertanian dan kemudian
memperoleh doktor di bidang ekonomi serta sarjana di bidang teologi.
Dengan adanya mahasiswa di Indonesia dan
bersamaan dengan berdirinya School tot Opleiding van Indishe Artsen
(STOVIA) tahun 1910-1924 di Batavia. Selain itu, berdiri juga
Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya (1913), Sekolah
Teknik di Bandung (1920), Sekolah Kedokteran Hewan di Bogor (1914)
dan Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta (1924). Pada tahun 1924
terbentuklah Batavia CSV dan inilah cabang CSV yang pertama.
Kurun waktu 1925-1927 para mahasiswa di
Surabaya yang tergabung dalam Jong Indie aktif melakukan penelaahan
Alkitab. Kelompok ini bersama Batavia CSV mengadakan Konferensi di
Kaliurang pada bulan Desember 1932. Pembicara-pembicara utama kegiatan
tersebut adalah Dr. J. Leimena, Ir. C.L van Doorn dan Dr. Hendrik
Kraemer. Selain itu, beberapa sumber menyebut bahwa Amir Sjarifuddin
juga terlibat dalam CSV op Java.
Jumlah anggota CSV op Java dalam kurun
waktu 1930-an sekitar 90 orang. Cabang-cabangnya baru ada di kota-kota
perguruan tinggi di Jawa (Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya).
Walaupun kecil dan lemah namun keberadaan CSV op Java telah berhasil
meletakkan dasar bagi pembinaan mahasiswa Kristen yang akan dilanjutkan
GMKI di kemudian hari.
Sejumlah mahasiswa kedokteran dan hukum
di Jakarta memutuskan untuk membentuk suatu organisasi mahasiswa
Kristen. Organisasi itu untuk menggantikan CSV op Java yang sudah tidak
ada. Dalam pertemuan di STT Jakarta tahun 1945, dibentuk Perhimpunan
Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) dengan maksud keberadaannya sebagai
Pengurus Pusat PMKI. Dengan demikian Dr. J. Leimena dipilih sebagai
Ketua Umum dan Dr. O.E Engelen sebagai Sekretaris Jenderal. Tetapi
karena Leimena sibuk dengan tugas-tugas sebagai Menteri Muda Kesehatan,
tugas-tugasnya diserahkan kepada Dr. Engelen.
Kegiatan-kegiatan PMKI tidak jauh berbeda
dengan CSV op Java dengan Penelahaan Alkitab salah satu inti
kegiatannya. Keanggotaan PMKI sebagian besar adalah mahasiswa yang
memihak pada perjuangan kemerdekaan. Terbentuklah PMKI di Bandung,
Bogor, Surabaya dan Yogyakarta (setelah UGM berdiri) segera menyusul.
Tak lama setelah PMKI lahir, awal tahun
1946 muncul organisasi baru dengan menggunakan CSV di Bogor, Bandung
dan Surabaya dengan “CSV yang baru” dan tidak menjadi tandingan PMKI.
Kesamaan kedua organisasi ini adalah merealisasikan persekutuan iman
dalam Yesus Kristus dan menjadi saksi Kristus dalam dunia mahasiswa.
Masuknya Jepang ke Indonesia mengakhiri
eksistensi CSV op Java secara struktural dan organisatoris. Pemerintah
pendudukan Jepang melarang sama semua kegiatan-kegiatan organisasi yang
dibentuk pada zaman Belanda. Secara prakatis CSV op Java tidak ada
lagi sejak tahun 1942. Sepanjang sejarahnya, CSV op Java dipimpin oleh
Ketua Umumnya Dr. J. Leimena (1932-1936) serta Mr. Khouw (1936-1939).
Sedangkan sekretaris (full time) dijalankan Ir. C.L Van Doorn
(1932-1936).
Dengan berakhirnya pertikaian Indonesia
dengan Belanda, tahun 1949 berakhir pula “pertentangan” antara PMKI
dengan CSV baru tersebut. Tanggal 9 Februari 1950 di kediaman Dr. J.
Leimena di Jl. Teuku Umar No. 36 Jakarta, wakil-wakil PMKI dan CSV baru
hadir dalam pertemuan tersebut. Maka lahirlah kesepakatan yang
menyatakan bahwa PMKI dan CSV baru untuk meleburkan diri dalam suatu
organisasi yang dinamakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
dan mengangkat Dr. J. Leimena sebagai Ketua Umum hingga diadakan
kongres. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan sangat penting dan
suatu moment awal perjuangan mahasiswa Kristen yang tergabung dalam
GMKI maka pada kesempatan itu Dr. J. Leimena menyampaikan pesan penting
yang mengatakan:
| “ | “Tindakan ini adalah suatu tindakan historis bagi dunia mahasiswa umumnya dan masyarakat Kristen pada khususnya. GMKI menjadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKImenjadilah suatu pusat sekolah latihan (leershool) dari orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya. Dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari iman dan roh, ia berdiri di tengah dua proklamasi: Proklamasi Kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injilnya, ialah Injil Kehidupan, Kematian dan Kebangkitan“ | ” |
GMKI kemudian berkembang dengan
berdirinya cabang-cabang GMKI di berbagai wilayah Indonesia. Dalam
transisi kepemimpinan nasional di era Ode Lama, Orde Baru, era
Reformasi dan pada masa kini, GMKI mencoba memainkan perannya sebagai
wujud semangat nasionalisme dan ekumenisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar